Safety Stock Adalah: Pengertian, Fungsi, dan Cara Hitung

safety stock adalah

Safety stock adalah persediaan tambahan yang disiapkan perusahaan sebagai stok pengaman untuk menghadapi perubahan permintaan atau keterlambatan pasokan. Keberadaan stok ini membantu perusahaan menjaga ketersediaan barang ketika kebutuhan pelanggan meningkat secara tidak terduga atau waktu pengadaan barang menjadi lebih lama dari perkiraan.

Dalam manajemen inventory, menentukan jumlah safety stock tidak cukup hanya dengan menambah stok sebanyak mungkin. Persediaan yang terlalu sedikit dapat meningkatkan risiko stockout, sedangkan stok berlebihan dapat meningkatkan biaya penyimpanan dan risiko barang tidak bergerak. Karena itu, perusahaan perlu memperhitungkan permintaan, lead time, serta karakteristik masing-masing barang.

Apa Itu Safety Stock?

Safety stock adalah sejumlah persediaan tambahan yang disimpan perusahaan untuk mengantisipasi ketidakpastian dalam permintaan dan pasokan. Dengan adanya stok pengaman, perusahaan tetap memiliki persediaan ketika terjadi peningkatan kebutuhan atau keterlambatan pengiriman dari supplier. Dalam praktiknya, safety stock menjadi salah satu bagian penting dalam inventory management. Jumlahnya dapat berbeda untuk setiap produk karena dipengaruhi oleh pola permintaan, waktu pengadaan, tingkat layanan yang ditargetkan, dan tingkat ketidakpastian dalam rantai pasok.

Dilansir dari dokumentasi Oracle, perhitungan safety stock dapat mempertimbangkan variasi permintaan, variasi lead time, serta tingkat layanan yang ingin dicapai perusahaan. Semakin tinggi tingkat layanan yang ditargetkan, kebutuhan safety stock umumnya ikut meningkat. Sebagai contoh, perusahaan yang menyimpan suku cadang untuk kebutuhan operasional alat berat dapat menyediakan stok pengaman agar kebutuhan penggantian komponen tidak langsung terganggu ketika pengadaan baru mengalami keterlambatan.

Fungsi Safety Stock dalam Supply Chain

Setelah memahami pengertian safety stock, penting mengetahui mengapa persediaan pengaman dibutuhkan dalam kegiatan operasional. Safety stock bukan sekadar tambahan barang di gudang, tetapi bagian dari strategi untuk menjaga kesinambungan proses bisnis.

Beberapa fungsi safety stock antara lain:

1. Mencegah Stockout

Safety stock membantu perusahaan tetap memiliki barang ketika permintaan aktual lebih tinggi dibandingkan perkiraan. Kondisi ini penting terutama untuk produk yang memiliki tingkat permintaan tinggi atau dibutuhkan secara rutin.

2. Mengantisipasi Keterlambatan Pengiriman

Perubahan lead time supplier dapat menyebabkan barang datang lebih lambat dari jadwal. Stok pengaman memberikan waktu tambahan bagi perusahaan untuk menunggu proses replenishment tanpa langsung mengalami kekurangan inventory.

3. Menjaga Kelancaran Operasional

Ketersediaan bahan baku, suku cadang, maupun barang jadi dapat membantu aktivitas produksi dan distribusi tetap berjalan. Dalam operasional logistik, kebutuhan ini juga berkaitan dengan kesiapan gudang dan transportasi untuk melakukan replenishment.

4. Meningkatkan Ketersediaan Barang

Dengan persediaan pengaman yang dihitung secara tepat, perusahaan dapat menjaga tingkat ketersediaan produk sehingga kebutuhan pelanggan dapat dipenuhi dengan lebih konsisten.

Perbedaan Safety Stock dan Reorder Point

Safety stock dan reorder point sering dianggap sama karena keduanya berkaitan dengan pengendalian inventory. Padahal, keduanya memiliki fungsi berbeda sehingga perlu dipahami secara terpisah. Safety stock merupakan stok tambahan yang berfungsi sebagai perlindungan terhadap ketidakpastian. Sementara itu, reorder point adalah batas persediaan ketika perusahaan perlu melakukan pemesanan kembali.

Secara umum, hubungan keduanya dapat digambarkan melalui rumus:

Reorder Point = Lead Time Demand + Safety Stock

Oracle juga menggunakan konsep serupa dalam perhitungan reorder point, yaitu kebutuhan selama lead time ditambah safety stock.

Komponen Fungsi
Safety stock Stok cadangan untuk menghadapi ketidakpastian
Lead time demand Perkiraan kebutuhan selama waktu tunggu pengadaan
Reorder point Batas persediaan untuk melakukan pemesanan kembali

Rumus Safety Stock

Rumus safety stock dapat berbeda tergantung metode dan kondisi bisnis. Salah satu metode sederhana yang sering digunakan adalah membandingkan penggunaan maksimum dengan penggunaan rata-rata selama lead time.

Rumusnya:

Safety Stock = (Maksimum Penggunaan Harian × Maksimum Lead Time) − (Rata-rata Penggunaan Harian × Rata-rata Lead Time)

Metode tersebut digunakan untuk memperkirakan buffer berdasarkan kondisi penggunaan dan waktu pengadaan. Shopify juga menjelaskan formula tersebut sebagai salah satu metode dasar untuk menghitung safety stock.

Selain metode sederhana, perusahaan dengan data inventory yang lebih lengkap dapat menggunakan pendekatan berbasis service level dan variasi permintaan. Dalam sistem Oracle, misalnya, safety stock dapat dihitung menggunakan standar deviasi permintaan selama lead time dan z-score berdasarkan target service level. Artinya, tidak ada satu rumus safety stock yang selalu cocok untuk semua jenis bisnis. Pemilihan metode perlu disesuaikan dengan pola permintaan, kualitas data, lead time, dan kebutuhan operasional.

Cara Menghitung Safety Stock

Setelah mengetahui rumusnya, berikut contoh sederhana agar cara menghitung safety stock lebih mudah dipahami. Misalnya sebuah perusahaan memiliki data berikut:

  • Maksimum penggunaan harian: 100 unit
  • Maksimum lead time: 8 hari
  • Rata-rata penggunaan harian: 60 unit
  • Rata-rata lead time: 5 hari

Maka:

Safety Stock = (100 × 8) − (60 × 5)
Safety Stock = 800 − 300
Safety Stock = 500 unit

Dengan perhitungan tersebut, perusahaan dapat menetapkan sekitar 500 unit sebagai stok pengaman berdasarkan metode sederhana tersebut. Namun, angka tersebut sebaiknya tidak dianggap sebagai nilai permanen. Data permintaan dan lead time perlu diperbarui secara berkala agar jumlah safety stock tetap sesuai dengan kondisi supply chain.

Faktor yang Memengaruhi Jumlah Safety Stock

Jumlah safety stock tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan kapasitas gudang. Beberapa faktor perlu diperhatikan agar persediaan pengaman tidak terlalu rendah atau berlebihan.

1. Permintaan Barang

Produk dengan permintaan yang berubah-ubah membutuhkan perhatian lebih besar karena risiko kenaikan permintaan dapat meningkatkan kemungkinan stockout.

2. Lead Time

Semakin lama dan tidak stabil waktu pengadaan, semakin besar kebutuhan perusahaan untuk menyediakan buffer inventory. Lead time juga dapat mencakup proses pemesanan hingga barang benar-benar tersedia untuk digunakan.

3. Tingkat Layanan

Perusahaan yang menargetkan tingkat ketersediaan produk tinggi biasanya membutuhkan safety stock lebih besar. Oracle mencatat bahwa kenaikan target service level dapat meningkatkan kebutuhan safety stock.

4. Kapasitas Gudang

Stok pengaman tetap membutuhkan ruang penyimpanan. Karena itu, perusahaan perlu menyeimbangkan kebutuhan safety stock dengan kapasitas gudang dan biaya penyimpanan. Dalam konteks operasional logistik, pengelolaan jasa pergudangan, dry storage, maupun distribusi dapat membantu perusahaan mengatur penyimpanan inventory secara lebih terstruktur, khususnya ketika volume persediaan meningkat.

Contoh Penerapan Safety Stock dalam Logistik

Penerapan safety stock dapat ditemukan pada berbagai industri. Misalnya, perusahaan menyimpan suku cadang untuk mendukung proyek konstruksi atau operasional alat berat. Jika kebutuhan komponen meningkat sementara pasokan baru masih dalam perjalanan, stok pengaman dapat digunakan terlebih dahulu. Untuk perusahaan yang mengelola kebutuhan proyek dengan mobilisasi barang berukuran besar, perencanaan inventory juga perlu diselaraskan dengan proses pengiriman alat berat, cargo, dan transportasi. Barang yang tersedia di gudang tetap harus dapat dikirim sesuai kebutuhan operasional.

Pada kebutuhan tertentu, perusahaan juga dapat menggunakan layanan seperti Sewa Multi Axle atau Sewa SPMT ketika aktivitas logistik berkaitan dengan pemindahan peralatan atau muatan berukuran besar. Dengan demikian, pengelolaan persediaan tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari koordinasi supply chain secara keseluruhan.

Cara Mengoptimalkan Safety Stock

Menentukan safety stock hanya berdasarkan perkiraan dapat membuat perusahaan menghadapi risiko overstock maupun stockout. Karena itu, pengelola inventory perlu melakukan evaluasi secara berkala berdasarkan data aktual.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah:

  • Memantau pola permintaan secara berkala.
  • Mengevaluasi lead time supplier.
  • Menentukan target service level sesuai kebutuhan bisnis.
  • Menggunakan data penjualan dan inventory secara konsisten.
  • Menyesuaikan stok berdasarkan perubahan permintaan.
  • Mengintegrasikan pengelolaan gudang dengan proses transportasi dan distribusi.

Dengan perencanaan yang lebih terukur, perusahaan dapat menjaga ketersediaan barang tanpa harus menyimpan inventory secara berlebihan.

Kelola Kebutuhan Inventory dan Logistik Bersama GSM Logistic

Safety stock adalah bagian penting dalam pengelolaan persediaan, tetapi ketersediaan barang juga perlu didukung oleh proses penyimpanan dan distribusi yang terencana. Ketika inventory harus dipindahkan dari gudang menuju lokasi operasional, perusahaan membutuhkan koordinasi antara pergudangan, transportasi, dan pengiriman.

GSM Logistic menyediakan berbagai solusi logistik yang dapat mendukung kebutuhan bisnis, mulai dari trucking, cargo, pergudangan, pengiriman alat berat, hingga project cargo. Layanan tersebut dapat disesuaikan dengan karakteristik barang dan kebutuhan distribusi perusahaan.

Dengan dukungan partner logistik yang tepat, pengelolaan persediaan tidak hanya berfokus pada jumlah safety stock, tetapi juga memastikan barang dapat disimpan dan dikirim sesuai kebutuhan operasional. Hubungi GSM Logistic untuk mendiskusikan kebutuhan logistik perusahaan Anda melalui  WhatsApp kami +62817389696

Baca juga:

FAQ Safety Stock

1. Apa yang dimaksud dengan safety stock?

Safety stock adalah stok cadangan yang disiapkan untuk mengantisipasi kenaikan permintaan atau keterlambatan pasokan.

2. Apa tujuan utama safety stock?

Tujuan utamanya adalah mengurangi risiko stockout dan menjaga ketersediaan barang selama terjadi ketidakpastian dalam supply chain.

3. Apa rumus safety stock?

Salah satu rumus sederhananya adalah (maksimum penggunaan harian × maksimum lead time) − (rata-rata penggunaan harian × rata-rata lead time).

4. Apakah safety stock sama dengan reorder point?

Tidak. Safety stock merupakan stok pengaman, sedangkan reorder point adalah batas persediaan untuk melakukan pemesanan kembali.

5. Apakah jumlah safety stock harus selalu sama?

Tidak. Jumlahnya perlu dievaluasi berdasarkan perubahan permintaan, lead time, target layanan, dan kondisi supply chain.